MAKASSAR, LINTASNEWSMEDIA.ID – Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan Simposium Internasional tentang Keberlanjutan Pesisir dan Laut yang sukses, Senin (16/6/2026).
Pertemuan tersebut mempertemukan para peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, serta praktisi terkemuka, dengan membahas berbagai tantangan penting terkait solusi inovatif untuk melindungi, mengelola ekosistem pesisir dan laut secara berkelanjutan.
Kegiatan bertajuk “The 2nd International Postgraduate Symposium on Ocean Sustainability” juga dirangkaikan dengan International Student Exchange Program tersebut berlangsung di Aula FIKP, Kampus Unhas Tamalanrea.
Turut hadir Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., Dekan FIKP Prof. Safruddin, S.Pi., M.P.,Ph.D., para Ketua Departemen, Ketua Program Studi S2 dan S3 Ilmu Kelautan dan Perikanan, serta perwakilan dari universitas mitra, yaitu Universiti Malaysia Terengganu (Malaysia), Beibu Gulf University (Tiongkok), Universiti Malaysia Sabah (Malaysia), Kasetsart University (Thailand), dan Jimei University (Tiongkok).
Mengawali kegiatan, Ketua Panitia Prof. Dr. Ir. Yushinta Fujaya, M.Si., dalam menyampaikan bahwa simposium ini juga mengusung tema “Bridging Research, Writing, and Global Collaboration for a Sustainable Ocean”, yang menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi lintas negara dalam mendukung keberlanjutan sumber daya laut dan pesisir.
Selama dua pekan pelaksanaan, peserta akan menjalani lima hari kegiatan tatap muka di Makassar, dan sembilan hari sesi daring.
“Kegiatan ini difokuskan pada penulisan manuskrip ilmiah serta proses pengajuan ke jurnal internasional bereputasi,” jelasnya.
Sementara itu, Rektor Unhas, Prof. JJ, menyampaikan adanya kegiatan simposium ini dapat menjadi wadah strategis pembentukan komunitas ilmiah internasional, yang berfokus pada pencarian solusi berbasis sains untuk keberlanjutan laut kedepannya.
“Mahasiswa pascasarjana adalah ujung tombak pengembangan ilmu. Namun, lebih dari itu, konektivitas personal yang terbentuk melalui kegiatan seperti ini menjadi kunci terbentuknya jejaring kolaboratif jangka panjang,” ucapnya saat membuka kegiatan Simposium Internasional.
Sekedar diketahui, dirangkaikan dengan sesi capacity building, permainan kolaboratif, serta kunjungan lapangan ke Balai Budidaya Air Payau di Takalar dan situs prasejarah Leang-Leang di Maros.
Kegiatan ini juga diikuti 50 peserta, yang terdiri atas 30 mahasiswa pascasarjana serta 20 dosen pendamping dari tujuh universitas mitra di kawasan Asia, termasuk dari Tiongkok, Malaysia, dan Thailand tersebut berlangsung lancar.(Ardi)
Editor: Roy
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


