PEGANG TANGANKU
Saat kesedihan menyentuh hidup
semesta adalah kesalahan
kau tunduk
remuk
menahan isak
Kuberitahu
saat kau menyusuri jalan
mengenang orang-orang yang pergi dan tak pernah kembali
ada bekas ciuman yang takkan hilang
yang setiap hari mengajakmu tertawa.
Kata-kata tidak pernah mampu membisikkan apa apa
berteman sekali lagi
nasa kekanak-kanakan yang benci jatuh cinta
saat kau bersentuhan dengan kata ini
apa kau masih bisa merasakan rasa yang kau buang
setelah tau kau tak pernah jadi yang pertama
Pegang tanganku
dan temukan sebuah lupa
satu pintu ajaib
yang akan mengajak kau bahagia kapan saja
dengan apapun
dengan siapapun
RUANG RINDU
~Dari Perempuan Keras Kepala
Di pagi yang biru
dari televisi, radio atau koran kau membaca berita
tentang kekosongan yang sebentar lagi akan di bangun disetiap halaman rumah
dietiap harapan yang remah
Kau terjebak di ruang pengap
sesak oleh kenangan
barangkali sejak itu
kau menolak percaya dan mengikuti aturan negara
yang membatasi rindu hanya bisa diucapkan pada seratus empat belas karakter
dan hanya bisa dikatakan saat tak ada lagi jam kerja
tapi, di negara ini kerja lebih banyak dari bicara
Kau sekali sekali tertawa
membayangkan sehelai langit jatuh di kelopak matamu
harusnya kata cinta lebih banyak diucapkan
melebihi famplet kampanye yang ditawarkan politisi dan pengusaha yang akan membeli seluruh waktu hidup kita
Dari rahasia yang ingin dibunyikan kata
kita dan kota
setiap hari
rindu
buru
Baru
gaduh
JUNI YANG RAMAH
“Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
drahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon yang berbunga itu”
baru separuh kau baca
matamu tergenang berkaca
aromanya mengiang pada setiap perjalanan
Umpama
Juni mengenangmu
yang di ujung jarinya pernah ada senyummu
berrhari hari
setelahnya
lelucon kecil
kata rindu
sesaki
berita kota hari ini
Hujan bulan juni
dari rintik rintihnya
samar ku dengar
nyanyi kekanak kecil
yang acap mencintai ucap dan kecupmu
Muhammad Ansar yang juga sering disapa Bhullunk lahir disebuah kampung kecil di sudut paling utara Kabupaten Maros, lebih tepatnya Dusun Lalang Tedong, Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa. Dirinya mengaku menghabiskan waktunya bekerja sebagai petani yang juga selalu menyempatkan waktu untuk menulis karena baginya menulis adalah membangun dunia tanpa kekerasan.
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


