Di pagi buta beranjaklah, Dari lelap, mimpi yang fana. Dengan langkah mantap ia meniti, Kecilnya harapan, megahnya cita.
Matahari perlahan terbit, Seperti bakar semangat yang tak surut. Dari gotong-royong hingga keringat, Semua demi sang buah hati, petaka atau bahagia.
Tak terpikir rasa lelahnya, Saat melihat senyum bahagia. Seribu rintangan menghadang, Ia hadapi dengan tenang.
Berjalan menembus malam, Mencari nafkah yang tak jarang. Mengangguk pada kesunyian, Tapi berbisik pada doanya, “Anakku, untukmu kuperjuangkan.”
Di atas pangku pasti tak terduga, Saat menimang harapan yang menggebu. Dengan penuh kasih, senyummu diterima, Setiap peluh terbayar senyumanmu.
Tak ada batas waktu, Tak ada kata henti dalam hati ini. Sebesar apapun taruhannya, Cinta ini kan selalu abadi.
Di setiap detik yang berkembang, Terdapat semangat takkan pudar. Kadang terjatuh, kadang tersandung, Namun tak kan pernah mundur.
Dunia ini bisa keras, wahai anakku, Hati-hati menapaki jejakmu. Namun ingatlah, di setiap langkah, Ada ayah yang selalu ada.
Kita adalah dua jiwa dalam satu ikatan, Di dalam kebersamaan terdapat kekuatan. Mimpimu adalah nafas perjuangan, Jalanmu adalah harapan.
Dan saat fajar bersinar kembali, Jangan lupakan segala pengorbanan ini. Satu janji yang tak akan sirna, Cinta ayah untuk selamanya.
Makassar, 22/8/2024
Bekerja sebagai wartawan, bermukim di Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


