puisiku
berlarilah
menuju matahari sorehari
yang bersinar dengan amarah
kemarau panjang
kering
mengerikan
meledakkan gunung batu
memangkas bukit rohani
sampai daun-daun ikut berguguran
di atas ranjang
ia sering menjilati masa lalunya
yang purba
sekarang ia menjelma
jadi perempuan
dikutuk ular berbisa
cemburu membuta
bila meneteskan airmata
diurai tali-tali maut
mau menjemput
Jakarta, Senin, 5 Februari 2024
Kami Senang Mendaki Bukit-Bukit Rohani
kami senang
mendaki bukit-bukit rohani
sepanjang dua puluh enam tahun
keluar dari air dosa
kolam baptisan
bertubuh lumut
hitam legam
kadangkala kaki kami
sering terjebak
dalam panas membara
api belerang
berbau kecacatan
sperma tunggal
kami senang mendaki bukit-bukit rohani
dalam rumah sengketa
yang dihuni ratusan kecoa
pecahan kaca di atas kepala
bacaan mantera
dalam tanah
berakar sampah perzinahan
berhamburan kesedihan
kepanikan tertinggal
di atas meja surat perkawinan
rajin ibadah
disodorkan pelayanan
kadang telanjang kemarahan
pada bangunan yang telah ditahbiskan
tanpa papan nama
dalam kota tua
dekat terminal bus ledakan bom ransel
nyaris mencuri nyawaku
yang kian terluka parah
kini telah kehilangan
jabatan orang lewi
maupun roh semangat
dibanting di atas tanah berkarat
kami senang mendaki bukit-bukit rohani
mengalir dari puncak gunung berapi
ada di sekitar kehidupan
masa dewasa pandai berpuisi ria
sampai kami menjadi
manusia yang tumbuh subur
dipeluk kitab suci
setiap pagi
sungguh
kami senang mendaki
bukit-bukit rohani
Jakarta, Minggu 11 Februari 2024
Bersaksi
melalui layar zoom-
basah ditelan hujan malam
engkau masih di kamar mandi
mengguliti tulang-tulang tubuhmu
yang makin mencair
sebelum disampaikan khotbah tentang nubuatan
akhir zaman terlupakan
kuceritakan penderitaan
makin berkepanjangan
satu untuk para pahlawan iman
satu lagi untuk jamaah serabutan
aku tetap kelaparan
“seribu penyakit menular harus ditebar dalam rumah persinggahan, lihatlah tiap malam rembulan batuk darah minta suntikan obat-obatan dari rumah sakit orang miskin,” teriaknya dari atas tikar yang penuh dendam dan kebohongan
aku harus segera meditasi
kembali ke gua-gua kesunyian
mengais barang-barang loakan
lantaran anakku yang gagah perkasa
senantiasa berpesan penuh kemarahan
jangan ada lagi perkakas logam yang dijual
atau perangkat elektronik dijejer
di jantung kiri dan etalase kematian
datanglah kepada Tuhan Yesus, pesanmu
sebab dari bukit hambalang
deru angin sangat kencang
semua diselesaikan
satu siksaan
kapan berakhir
hari-hari tak punya kepastian
Jakarta, Senin 12 Februari 2024
=====================================
Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya 20 Juni 1961
Beberapa puisinya telah terpublikasi di berbagai media online maupun cetak.
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


