PASANGKAYU, LINTASNEWSMEDIA.ID — Kisah perjalanan hidup H. Zainudddin Suardi, dari masa-masa sulit ketika modal hanyalah semangat, hingga pandangan sinis, ejekan orang-orang disekelilingnya, bahkan di sebut “gila”.
Sejak itu tahun 1996, ketika para petani masih menggantungkan hidup dari kakao (coklat), Suardi memilih langkah berbeda, ia menanam kelapa sawit. Keluarganya pun sempat menegur karena harga kakao tengah melambung tinggi.
Saat mata orang melihat keputusan yang diambil oleh Suardi, bahwa tanaman sawit waktu itu masih dianggap tanaman perusahaan besar, bukan petani kecil.
Ia melihat lebih jauh, ada masa depan di balik hamparan hijau yang ditanamnya, sehingga mendatangkan bibit sawit langsung dari Medan, dan menanam di lahan miliknya, bahkan menjaga setiap pohon dengan keyakinan keberhasilan jangka panjang.
Pihak perusahaan sawit terbesar di Kabupaten Pasangkayu bertanya, “untuk apa kamu tanam sawit”
Suardi hanya menjawab pelan, untuk ditanam, dan hasilnya akan saya jual juga ke perusahaan ini ketika sudah menghasilkan buah.
Berselang berjalannya waktu panjang, pohon-pohon sawit yang ditanam mulai berbuah, dan waktu itu perusahaan besar sempat menolak Tandan Buah Sawit (TBS) miliknya.
Waktu membuktikan. Dari panen empat kilo enam tandan, hasil kebunnya meningkat hingga ratusan ton.
Dari situlah namanya mulai dikenal, bukan lagi sebagai “orang gila”, tapi pelopor sawit masyarakat Pasangkayu.
Pada tahun 2004, Suardi melangkah ke dunia politik sebagai anggota DPRD Pasangkayu. Dirinya membawa gagasan tentang pengelolaan sawit yang berkeadilan bagi petani kecil.
Menjalani hidup sebagai anggota DPRD Pasangkayu selama satu periode. Namun, diakhir masa jabatannya sebagai perwakilan rakyat, ia memutuskan untuk bergeluk di sektor pertambangan pasir, sehingga orang-orang kembali menganggapnya “orang gila”.
Pada tahun 2012, Suardi dengan tekad menelusuri Sungai Lariang untuk melihat potensi pasir yang selama ini terabaikan.
Pasca melihat potensi tambang pasir berpeluang besar, maka melakukan perjalanan ke wilayah Kalimantan, dan sesampainya ia bertanya kepada warga sekitar bahwa pasir yang digunakan di bangunan itu asalnya dari mana.
Setelah mengetahui pasir tersebut dari Kota Palu, muncul di benaknya mengapa bukan pasir dari Kabupaten Pasangkayu, karena di wilayah itu mempunya pasir yang kwalitasnya sangat baik.
Iapun balik ke Pasangkayu, kemudian kembali ke Kabupaten Balikpapan, Provinsi Kalimantan dengan membawa sample pasir yang ada di Dusun Kalindu, Desa Lariang untuk memperlihatkan kepada investor. Hasilnya masuk kategori sebagai kwalitasnya sangat baik.
Di tengah hiruk pikuk sering kali terdengar seperti dongeng. Namun, bagi H. Zainuddin Suardi, perjalanannya adalah bukti nyata bahwa integritas, ketekunan, dan visi yang jelas mampu mengubah impian sederhana menjadi kerajaan bisnis di sektor pertambangan pasir.
Sososk seorang Suardi yang dulunya disebut “gila”, kini memiliki CV Maju Bersama berdiri kokoh sebagai salah satu distributor dan penyedia pasir terbesar di Kabupaten Pasangkayu, tepatnya di Dusun Lalundu, Desa Lariang, Kecamatan Tikke Raya.
Hal hasil, Suardi menandatangani kontrak kerjasama dengan PT Primaguna Balikpapan. Waktu itu saya anggap mustahil telah membangun Memorandum of Understanding (MoU).
Waktu itu satu tongkang pertama di kirim tanpa menghitung untung. Hanya ingin membuktikan bahwa CV Maju Bersama dari Pasangkayu pasti bisa.
Kini, pasir Sungai Lariang telah menembus pasar Balikpapan, Halmahera, Kendari hingga Manado. Perjalanan hidup saya betul-betul dari nol.
Dimasa sulit, Suardi menjual cincin anaknya demi bertahan hidup saat datang ke Pasangkayu pada tahun 1990, dan transportasi masih mengandalkan perahu dayung.
Bahkan dirinya sempat bekerja di suatu perusahaan untuk mengisi kantong polybag, dengan gaji untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-harinya bersama keluarga.
H. Suardi, menyampaikan bahwa keberanian berpikir beda bukanlah suatu kegilaan, itu merupakan suatu perjalanan hidup menuju kesuksesan menuju perubahan.
Keberadaan CV Maju Bersama menjadi rumah bagi banyak harapan, membuka lapangan kerja, membantu pendidikan, kesehatan, dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.
“Saya hanya ingin berbuat lebih banyak untuk orang banyak. Kekayaan tidak akan dibawa mati, tapi kebaikan bisa tinggal lebih lama,” ujar Direktur CV Maju Bersama pasca sosialisasi program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), Kamis (23/10/2025).
H Zainuddin Suardi Lahir di Polewali Mandar tahun 1968. Dia bersama keluarganya menetap di Dusun Kalindu, Desa Lariang, Kabupaten Pasangkayu hingga sekarang.
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


