MAKASSAR, LINTASNEWSMEDIA.ID – Makassar Internasional Writers Festival (MIWF) menghadirkan sejumlah tokoh penulis skenario atau sutradara ternama di Indonesia dalam agenda Intelektual Property (IP) Talks dari cerita buku dijadikan film di Fort Rotterdam, Kota Makassar.
Selaku dipertemuan IP Talk, Rizi Riza selalu moderatur menyebutkan nama-nama tokoh penulis skenario atau sutradara diantaranya Ratih Kumala, Prima Rusdi, Yandi Laurens sebagai narasumber, Sabtu (25/5/2024).
Judul film nasional “Ada Apa Dengan Cinta 1 dan 2”, penulis skenarionya Eliana dan Yuni.
Prima Rusdi mengungkapkan, dirinya sangat mengapresi perfilman Indonesia saat ini, apalagi film yang dibuat tersebut diangkat dari sejumlah cerita buku seperti novel.
“Saya sangat mengapresiasi perfilman Indonesia saat ini,” singkatnya.
Sutrada dan Skenario film Indonesia, Yandi Laurens mengatakan, tentu kita beradaptasi terlebih dahulu untuk membuat sebuah film, apalagi ceritanya diambil dari cerita buku untuk dijadikan film Indonesia.
“Saya selalu percaya penyebaran statement atau gugatan yang diekspresikan dari medium sebelumnya, ketika itu penting untuk kehidupan kita sebagai manusia. Selama tujuannya menjadi hal yang penting di dalam film,” katanya.
Lanjut dia, jika output dari adaptasi buku ke film tersebut dapat membuat sebuah karya yang menjadi semakin tajam dalam bentuk medium lainnya.
“Ketika jiwa penulis dan statementnya tepat, tentu dapat memuat karya terbaik dalam cerita film tersebut,” terang Yandi.
Yandi menambahkan, bukan hanya sekedar adaptasi saja, karena friendly marketing harus ada kepedulian terhadap isi pesan dalam buku itu, dan harus menjadi paling utama.
“Bukan terdistorsi atau hanya sekedar adaptasi, karena ada pihak-pihak yang merasa ini lebih friendly marketingnya perlu diutarakan, agar cerita filmnya menjadi terarah,” tuturnya.
Adapun novel dan kumpulan cerita 8 karya penulisnya Ratih Kumala yang membuat salah satu film limited series, dan itu juga di adaptasi ke Netflix.
Ratih menuturkan, saya tidak pernah menargetkan bahwa novel yang berjudul “Gadis Kretek” untuk diangkat menjadi sebuah film.
Cerita buku yang dijadikan film tentu tidak jauh beda dengan cerita yang tercantum di dalam novel tersebut.
“Jadi, di pembuatan film, saya mau terlibat dan tidak mungkin lepas tangan,” ujarnya. (Ardi)
Editor: Roy
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


