Di mana Kau Letakkan Bahagiaku, Bu?
Jauh-jauh hari
sebelum semuanya telah mati
pikiranku terus ditimbun oleh lembar-lembar panjang
yang mana harus aku tuntaskan tanpa banyak tentang.
Aku merangkak, meringkuk segala yang mengutuk
kebahagiaan yang ingin masuk
Ketika kantuk telah mengetuk.
Di mana kau letakkan bahagiaku, bu?
toilet, kamar mandi, tungku nasi,
bekas sapu yang kau pukulkan padaku,
atau digembur subur tanahmu
yang menyimpan banyak peluh
Dari parau suaramu paling runtuh.
Jogja 2023
Kekasihku 1
Kekasihku
sediakan aku tempat teduh
yang tercipta dari parau suaramu
sebab, kapalku sebentar lagi akan berlabuh
di tepi pelabuhan yang menyimpan banyak ingin.
Dan, jangan lupa
Berikan aku selimut dari pelukmu yang hangat
karena aku baru saja selesai
memerangi ranting-ranting kecil
yang menghalang pandang mataku
melihat engkau.
Jogja 2023
Kekasihku 2
Aku ingin merubah pandangku
jadi deru yang berdera di kedalaman matamu
mengihwalkan segala darahku mengalir di nadimu
memetik bebuahan yang tumbuh dibidang dadamu
Serta menyelam ke palung paling dalam
yang tak ingin kutemui kelam.
Jogja 2023
Ada Banyak Jalan
Ada banyak jalan untuk pulang
semuanya menuju ke rumahku
tapi kau memilih simpang selatan
yang dikerumuni oleh duri-duri panjang.
Ada banyak cara untuk sembuh
dari hati perih paling parah
namun, semuanya selalu gagal memberi obat,
selain puisi sedih yang tiap kali mendidih.
Ada banyak doa yang harus aku pinta
keselamatan, wajah yang tampan,
dan tentu juga kesehatanmu
sari pecah kaca
yang berulangkali
dijatuhi masalah-masalah di kepala.
Ada banyak kata yang tersusun rapi
namun hanya namamu yang tegak
diarisan puisi yang tak jadi-jadi.
Jogja 2023
Siapa yang Tidur Depan Gereja Tua Itu?
Semakin larut, orang-orang banyak berlalu lalang
entah baru pergi atau pulang dari pesta malam
aku melihat seseorang berjalan sempoyongan
kepalanya ditumbuhi beberapa kepalangan
tubuhnya menggendong harapan
matanya yang nanar tiba-tiba pecah
tak membentuk pantulan sehabis ditimbun banyak utang.
Ia terus menelusuri sejarah diingatannya
masa kanak-kanak yang tiap kali melintas
terus ia renungi, sebelum usianya tuntas
baju yang tiap hari basah
tak sempat ia jemur
sebab lapar yang mengejar
menggelegar melebihi bau bangkai ular.
Ia berhenti sejenak
Ingin membuat mimpi sebentar saja
merebahkan badannya yang kering kerontang
setelah berjalan menikam kejam panasnya aspal
lalu ia terlelap depan gereja tua milik negara
sebelum mimpinya digagalkan oleh denting jam
di puncak menara.
Di manakah ia akan menemukan nasib baik?
sementara Tuhan disembunyikan dibalik tuan
yang tak mesti memberikan jaminan panjang.
Jogja 2023
=====================================
*Wail Ar-rifqi, pemuda kelahiran Sumenep, Madura,
Beberapa puisinya telah terpublikasi di pelbagai media online maupun cetak, saat ini bermukim di jogja.
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


