MAKASSAR, LINTASNEWSMEDIA.ID – Stigma terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) tidak hanya muncul dari lingkungan sosial, tetapi juga dapat berkembang menjadi self-stigma (stigma diri), yaitu ketika individu menginternalisasi pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Kondisi tersebut dapat memengaruhi penerimaan diri, keyakinan terhadap kemampuan diri, serta keberanian ODHIV untuk berinteraksi dan menjalani kehidupan secara optimal.
Bagi ODHIV, pertarungan terbesar seringkali bukan melawan virus di dalam darah, melainkan melawan bayangan di dalam kepala mereka sendiri. Inilah yang disebut sebagai self-stigma ketika seseorang menginternalisasi stigma negatif masyarakat, lalu menghakiminya pada diri sendiri.
Di sinilah self-stigma bekerja sebagai “musuh dalam selimut”. Pikiran otomatis (automatic thoughts) yang negatif memicu kecemasan kronis, depresi, hingga burnout emosional. Jika dibiarkan, kondisi psikologis yang buruk ini akan menekan sistem imun, membuat efektivitas pengobatan medis menjadi tidak optimal. Penanganan ODHIV tidak bisa lagi hanya berfokus pada fisik semata, maka itu membutuhkan penyembuhan jiwa.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) menghadirkan program “Pelukku Untuk Pelikmu” Self-Stigma Reduction melalui Peningkatan Self-Acceptance dan Self-Efficacy Berbasis Cognitive Behavioral Therapy pada ODHIV Saribattangku” bersama Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Saribattangku Makassar.
Ketua Tim Pelukku Pelikmu PKM-PM Unhas, M. Aidil Akbar, mengatakan program ini dirancang sebagai upaya pemberdayaan yang menempatkan ODHIV sebagai individu yang memiliki potensi, kemampuan, serta hak untuk menerima dan mengembangkan dirinya.
Pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) digunakan untuk membantu mitra mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku yang dapat memperkuat self-stigma.
“Melalui proses tersebut, peserta diarahkan untuk mengidentifikasi pola pikir negatif, meninjau kembali pemikiran yang kurang adaptif, dan membangun cara pandang yang lebih rasional terhadap diri sendiri,” ungkapnya, Minggu (23/8/2026).
Tidak berhenti pada pendekatan kognitif, Pelukku untuk Pelikmu dikembangkan melalui rangkaian kegiatan interaktif dan kreatif yang memberikan ruang bagi mitra untuk mengenali potensi, membangun relasi positif, mengekspresikan diri, serta memperoleh pengalaman keberhasilan.
Adapun rangkaiannya meliputi Potential Discovery, yang membantu peserta mengenali potensi dan kelebihan diri melalui aktivitas interaktif, Recipe of Hope, kegiatan memasak bersama yang mendorong kolaborasi dan pengalaman keberhasilan, Create of Hope.
“Melalui kegiatan meronce untuk melatih kreativitas, ketekunan, dan kesabaran serta Bloom of Hope, berupa kegiatan menanam dan membuat pohon harapan sebagai media untuk mengekspresikan harapan dan memaknai proses pertumbuhan diri mereka,” ucap Aidil saat berada di Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
Selain itu, kata Aidil bahwa peserta juga difasilitasi melalui kegiatan reflektif dan penguatan diri. Sesi Heart2Hearts menjadi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan membangun dukungan sebayanya.
Sementara kegiatan Build Your Stage dan Time to Shine, Express Your Potential memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempersiapkan dan menampilkan potensi yang dimiliki di hadapan orang lain.
“Program ini tidak hanya berfokus pada bagaimana peserta mengurangi pikiran negatif tentang dirinya, tetapi juga bagaimana mereka dapat kembali melihat bahwa dirinya memiliki potensi, kemampuan, dan ruang untuk berkembang,” tuturnya.
Lanjut dia, melalui pendekatan tersebut, program Pelukku Untuk Pelikmu diharapkan dapat menciptakan pengalaman positif yang memperkuat self-acceptance dan self-efficacy, sehingga peserta memiliki keyakinan yang lebih baik terhadap kemampuan dirinya dan mampu menghadapi berbagai tantangan secara lebih adaptif.
Keterlibatan KDS Saribattangku Makassar menjadi bagian penting dalam keberlangsungan program karena dukungan sebaya dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman, suportif, dan dekat dengan pengalaman kehidupan ODHIV.
“Kolaborasi ini sekaligus memperkuat peran komunitas sebagai ruang pemberdayaan dan dukungan bagi anggotanya,” urainya.
Program Pelukku untuk Pelikmu dilaksanakan oleh tim PKM-PM yang terdiri atas anggota Andi Tenri Oja Anas, Alika Wahyuni, Annisaramah Menceng Azzahra, dan A.M. Bintang Ramadhan Galigo.
Melalui “Pelukku untuk Pelikmu”, tim berharap stigma tidak lagi menjadi batas bagi ODHIV untuk mengenali nilai dirinya. Setiap individu memiliki cerita, potensi, dan harapan yang layak untuk terus tumbuh.
Pelukku Untuk Pelikmu hadir bukan sekadar untuk mengurangi stigma, tetapi untuk membantu ODHIV kembali memeluk dirinya, menerima prosesnya, dan percaya pada kemampuan yang dimilikinya.
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


