PASANGKAYU, LINTASNEWSMEDIA.ID – Bullying adalah salah satu fenomena menjadi perhatian di dunia pendidikan era sekarang, seperti yang dilakukan oleh PT Letawa di sekolah binaannya.
Upaya meningkatkan kesadaran dan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, tim Guru SMP Astra Makmur Jaya (AMJ) sekolah binaan PT Letawa mengemas Pesantren Ramadhan 1446 Hijriyah (H) dengan memberikan materi sosialisasi anti-Bullying dan kesehatan mental remaja yang pesertanya dari kelas 7, 8 dan 9 sebanyak 288 siswa dan diselenggarakan selama tiga hari, 18 hingga 20 Maret 2024.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pasangkayu, Abidin menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan Pesantren Ramadhan dengan mengintegrasikan materi kesehatan mental anti bullying di SMP AMJ.
Abidin mengharapkan peran aktif sekolah, orang tua, serta lingkungan masyarakat untuk mencegah tindakan bullying, karena ini merupakan program nasional dari Kementerian Pendidikan.
“Kami juga mengimbau sekolah-sekolah di Pasangkayu untuk memberikan pembekalan tentang kesehatan psikis dan ketahanan mental siswa, agar Kabupaten Pasangkayu bisa zero bullying,” harap Abidin dalam keterangannya, Rabu (27/3/2023).
Kepala SMP Astra Makmur Jaya, Abdul Majid menjelaskan, warga sekolah harus berkolaborasi mencegah dan menangani bullying ini, dan terdapat tiga varian bullying yakni bullying fisik, bullying verbal, serta cyber bullying.
“Guru sebagai orangtua atau wali di sekolah harus menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendorong anak-anak menjadi agen perubahan karena sebagian besar siswanya belum sepenuhnya teredukasi mengenai bullying,” jelas Majid.
Menurut Majid, salah satu upaya dilakukan untuk mencegah bullying adalah melakukan sosialisasi.
“Kami menggunakan momentum ramadhan ini sebagai wadah sosialisasi tindakan preventif melalui pendekatan religi dalam mencegah tindakan bullying di lingkungan sekolah,” tuturnya.
Selaku Ketua Pelaksana Pesantren Ramadhan SMP AMJ, Adi Dasuki mengatakan, rangkaian kegiatan diawali dengan tadarus Alquran dan Sholat Dhuha setiap harinya.
“Materi kegiatan seperti Aqidah dengan memahami Asmaul Husna, Fiqih melalui tuntunan sholat Idul Fitri, Tarikh dengan kegiatan nonton bersama video inspirasi dari Bilal sahabat Nabi, dan materi Akhlak dan Muammalah dengan materi psikologi dan kesehatan mental remaja,” katanya.
Selaku Guru Bimbingan dan Konseling SMP AMJ, Sandra Setiawan menyatakan, indikator mental yang sehat antara lain, memiliki sikap positif terhadap diri sendiri, menerima diri sendiri apa adanya, mengaktualisasi kemampuan dirinya dengan baik.
Kemudian memiliki cita cita hidup dan merasa dirinya bertumbuh kearah dia cita-citakan, pribadi yang integritas, hidup sesuai ia katakan dengan tindakan, memiliki otonomi pribadi, mampu menerima penolakan negative dari luar, serta memiliki keseimbangan emosi (self control).
Pertama, kata Sandra, ketika ada bisikan atau ajakan berbuat suatu hal harus senantiasa menimbang baik buruknya, kedua ketika dihadapkan pada suatu problem.
“Jadi kalian (peserta) harus belajar untuk menyelesaikan problemnya sendiri secara positif, senantiasa membuka diri untuk sharing dengan orangtua di sekolah yaitu guru,” katanya.
Manajemen PT Letawa mengapresiasi positif kegiatan pesantren Ramadhan SMP AMJ lewat peran aktif guru dan sekolah dalam membangun persepsi positif untuk siswa-siswinya.
“Semoga kita dapat bersama menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, berkebhinekaan, dan aman bagi semua. Mari bersama atasi perundungan,” ujar Administratur (ADM) PT Letawa, Unari Sarmidi.
Staff CSR PT Letawa, Ahmad Faizal menerangkan, berdirinya SMP Astra Makmur Jaya sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap peningkatan akses, fasilitas dan mutu pendidikan di daerah, baik untuk anak anak karyawan maupun anak anak masyarakat di seputaran perusahaan.
“Program-program CSR pendidikan kami desain untuk merespon kebutuhan dan tantangan zaman sekarang demi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia,” terang Faizal.
Ia menjelaskan, peran keluarga dan masyarakat juga harus turut aktif terlibat terhadap upaya pencegahan bullying agar menciptakan budaya peduli dan inklusif.
Dengan demikian, Faizal berharap generasi muda yang sedang tumbuh berkembang ini menjadi lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
“Diharapkan mereka mampu melakukan tindakan preventif untuk menghindari perilaku bullying didalam lingkungan yang bermuara pada kondusifnya iklim daya dukung lingkungan agar generasi bangsa bertumbuh dengan baik,” ujarnya.
Lanjut Faizal, kepedulian tim pengajar dan tenaga pendidikan untuk mengidentifikasi secara cepat dan tanggap dalam menanggapi kasus bullying, menjadi kunci sukses pemecahan masalah.
“Ini untuk memastikan bahwa program dan aturan yang telah disepakati oleh warga sekolah dapat dijalankan sesuai fungsinya serta memahami peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dari bullying,” imbuhnya. (Red)
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


