Negeri Penyamun
Di seberang putra sang fajar pernah berkata
“ Perjuanganku akan lebih mudah
jika melawan penjajah
tapi perjuanganmu akan menjadi sulit
jika melawan bangsamu sendiri”
kalimat sakti yang dirapal tanpa mantera
seakan masa depan telah diejanya dalam-dalam
Kala itu pertiwi masih belia
cita dan harapannya kala dewasa nanti
menjadi oase digersangnya bukit berpasir
menjadi hujan ditandusnya keyakinan akan Tuhan
Dengan harapan-harapan putih
gemetar jiwa sang pertiwi
dari remang kulitnya menjelma pohon dan bunga bunga
peluhnya menjadi sungai
lepas mengalir dari hulu hingga ke muara
nafasnya menjelma bayu
kerap berembus membawa cinta yang ranum
Huuuuu
waktu terus berputar membawa zaman dengan roda belati
kini pertiwi semakin senja meski usia belum sepuh
matanya yang dulu bersinar tajam
kini redup dan semakin suram
rintihannya diwakilkan nyayian burung yang kehilangan hutan
dan air matanya menjadi bah
kerap datang menggenang dari dusun hingga pusat kota
Jiwa raganya kini terpasung
setiap lekuk tubuhnya telah dipahat dengan mesin mesin mutakhir
sarinya dikuras diperas hingga darah dan bernanah
Pertiwi yang malang
orok yang telah dikandungnya menjadi penyamun di negeri sendiri
di sana mereka lantang memujamu dengan nyayian lagu lagu rohani
waktunya dihabiskan menyusun aturan sebagai tameng membela diri
bahkan adat dan budaya dikatakan praktik kesesatan
suku, ras, bahasa, bahkan agama dijadikan alat bernada rasis
Mereka yang dipertuan ternyata kuyang
parasnya elok hanya disaat siang
sedang ketika senja mulai menghilang
tubuhnya telanjang bersenggama bersama setan
Pertiwiku sayang
tetaplah hidup….
karena sebagian anak-anakmu
masih berhati bukan berduri
Maros, 4 Februari 2022
Cerita Samudera
Lalu malam tak lagi terelakkan
setelah mentari menyimpan cerita pada tasik
yah
tasik tanpa muara, pun pantai berpasir
di tepian angin bermain
bagai anak kecil, gemeretak tawanya memecah gelombang
Tak lagi berirama
meski sang bayu melepas dendang
pada hatiku yang masih berteman malam
Sungguh terasa lama
memunguti sisa bayangnya, tapi tetap terasa tak lengkap
mungkin separuh rembulan ditelan malam
atau mataku memudar
setelah senja memendam rasa
Malam yang malang memang tak terelakkan
serupa sebuah kisah
selalu berakhir pada ujungnya
entah suka
entah duka
dan jika semua tiba pada masanya
kita menyadari semua hanya sia-sia
dan akhirnya kita memang sendiri.
Maros, 17 Oktober 2015
Gubuk dan Wangi Rambutnya yang Hilang
Mencari jejaknya setelah hujan sepagi ini.
namun segaris sketsa sekalipun, tak lagi meninggalkan tanda
hujan mungkin membawanya pergi atau angin telah merampasnya malam tadi
Lama menunggunya di taman berumput
bahkan sengaja kupesan purnama untuknya
ingin mengulang pertemuan yang lalu
meski tak sengaja mendapatinya sendiri dan gigil
Gelisah semakin menggeliat
setelah fajar perlahan datang dan gerimis mencipta nada sendu.
Rintik kini jatuh perlahan
dan pikiranku sampai pada ngarai berkabut
Di sebrang
mungkin raganya tersesat atau jiwaku yang hilang diingatannya.
Aku pulang degan harapan yang masih utuh.
Hujan telah beranjak namun genangannya masih tersisa di kepalaku.
gegas langkahku yang semakin ringkih
hendak kuterjangnya waktu agar sampai di gubuk tempatku memuja parasnya.
di sana masih kusimpan wangi rambutnya
takut jika angin merampasnya dan mencumbuinya bersama sepi.
Jantungku kini berguncang
seiring padamnya pelita dan pintu gubuk yang terbuka,
kehampaan telah menghiasinya
Benar
angin telah melucuti segalanya.
sisa keping kenangan yang kupeluk dalam-dalam
dia telah pergi
dia telah pergi
“”””””‘ Mencintaimu dengan caraku sendiri””””
Maros, 28/01/2019
===================================
Mardianto salah satu penyair Maros Sulawesi Selatan. Karyanya tergabung dalam kumpulan puisi Titipan Langit dan Mozaik Kalubampa. Aktif membina HMJ Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Seni Universitas Muslim Maros.
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


