Hujan
Hujan selimuti bumi
menggigil tubuh tiada henti
pucat pasi bersandar diri
kapan kan berhenti hujan
dia yang mencoba membaca arah
dalam gelap,
memanggil cahaya yang tersembunyi di balik aksara
berdiri sendiri mencoba mengenal suara kerinduan
adakah dia di sana masih terpaku menatap kenangan..
Ku tahu dan kusadari bahwa diri ini penuh asa
karena hanya bisa mengenal lewat kedua mata
dan hanya bisa berkata tanpa memandang
luka waktu
mengaksarakan tulisan yang tak kunjung usai
Apa daya?
pada waktu senja buta
terkikis serpihan luka
dan setengah sadar hati bertanya
hujan kapan kau reda
hapuslah jejak yang membawa luka
benamkanlah dia sampai tiada sisa
semoga dan semoga
semuanya kan segera terang benderang
hingga akhirnya
aku bisa tersenyum bahagia
Sahid Raya Jogjakarta, 06 Februari 2023
 
Jingga
Ufuk jingga mulai hanyut
kegelapan segera menyambut
sepiring leunca dari ranah sunda
rasa pahit mencekam di lidah
aku masih menghabiskan buah itu sembari melihat lihat dedaunan bergerak di hembus angin
tanpa sadar dengungan telinga mendengar syair-syair keibaan silam
terulang menyayat hati.
kasih yang dinanti tak kunjung datang ke gubuk tua yang ditumbuhi dedaunan liar
harus berapa lama lagi menunggu?
sudahkah hari silam pergi, Apakah aku harus minta izin pada Rabb ku untuk menghentikan detik?
bisakah itu terjadi?
rasa menggebu membuatku berpikir.. mustahil.
tak ingin lagikah engkau ke gubuk tuaku wahai Mahaputri?
aku sudah menantimu ketika rasa rindu menyelinap masuk diam-diam dalam jiwaku
berapa kali Aku mendengar syair balada keibaan
Tebing Breksit Jogjakarta, 06 Februari 2023
BANGKIT
Sampaikan salam pada pandemic kelabu
biarkan berlalu jangan
mencumbu
kita buka asa yang baru
bagi negeri yang lebih maju
kita Pemuda-pemudi, sudah berjanji
pada air, pada tanah dan darah yang sama
mari kita renungkan
karena tulang yang sama..usah berpencar… Indonesia..indonesia
tinggalkan cerita pandemi
yang telah berlalu
maju dan genggam tanganku untukmu
bangkitlah Indonesia yang lebih maju
hapus jejak pandemi yang telah berlalu
Kan kuhapus jejak yang merindu
bersama hujan yang menggemuruh
membasuh pandemi yang berjibaku
genggam semangat, kepal asamu
jangan layu dan jangan ragu
bentangkan layar dan kayuh bidukmu
mari kita menuju pada pulau yang baru
bangun dan semangat dan semai Doamu
tatap dunia tinggalkan duka dan haru
ayo pemuda-pemudi Bangkitkan sabar untuk diri dan negeri..
Kasturi, 10 Nopember 2022
================================================
Aris Permana, biasa dipanggil Aris. Lahir di Jakarta, 25 September 1977. Mengabdi di MTs PUI Kasturi Cikijing Kab. Majalengka. Jawa Barat. sebagai salah satu staf pengajar bahasa Indonesia. Pernah menjadi Kontributor Puisi Antologi Sejuta Asa Guru Indonesi dan Buku Antologi Puisi Sumpah Pemuda Untuk Indonesia Jendela Puspita dan lan-lain
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


