MAKASSAR, LINTASNEWSMEDIA.ID – Makassar bernapas dengan gelisah. Udara kota yang biasanya ramai oleh lalu-lalang kendaraan dan obrolan warung kopi, kini dipenuhi oleh serangan protes, auman kemarahan, dan denyut kegelisahan yang menggetarkan. Sudah berhari-hari gelombang demonstrasi membungkus kota, menuntut keadilan, menyuarakan kekecewaan yang telah lama terpendam. Namun, tak ada yang siap untuk apa yang terjadi saat senja mulai merangkak dan kegelapan menelan horizon., Sabtu (30/8/2025).
Di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar, lautan massa tumpah ruah. Spanduk-spanduk bertebaran, teriakan-teriakan menyatu menjadi satu orkestra tuntutan. Ada wajah-wajah muda yang berapi-api, ada pula wajah-wajah tua yang menyimpan keputusasaan. Mereka semua datang dengan satu tujuan “Didengar”. Namun, seolah ada sumbu yang tersulut di tengah lautan kekecewaan itu. Sebuah gesekan kecil, pelemparan batu, lalu amarah meledak tak terkendali.
“Bakar! Bakar!” suara-suara sumbang mulai terdengar, berbaur dengan keputusasaan dan emosi yang memuncak.
Api pertama kali muncul dari tumpukan ban yang dibakar, melahap udara dengan asap hitam pekat. Kemudian, seolah diberi komando tak terlihat, api itu mulai menjilat ke arah bangunan. Kaca-kaca pecah berderai, menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Pintu-pintu didobrak, dan di tengah kerumunan yang semakin histeris, nyala api mulai merayap naik, melahap setiap sudut yang bisa disentuhnya.
Seorang pedagang yang menggunakan aplikasi tikok kini sangat kecewa dengan pemblokiran live.
“Kami pengguna tiktok sangat mengharapkan live kembali di aktifkan, dimana salah satu penghasilan tambahan (kami dari Tiktok-red),” ujarnya dalam video yang di upload.
Kini mereka sangat kecewa atas pemblokiran live di tiktok. Namun, wajarlah para mahasiswa, STM, dan masyarakat melakukan aksi atas kekecewaannya terhadap pemerintahan Republik Indonesia (RI) yang diduga hanya menyenangan sepihak, sehingga rumah rakyat dibakar rakyat.
Para pedang tiktok hanya mengelus dadanya bukan hanya karena asap yang menyesakkan paru-paru, tetapi juga karena pemandangan di depannya. Dua gedung DPRD, yang selama ini menjadi lambang kekuasaan, sekaligus kerap dianggap sarang bagi ketidakpedulian, kini terbakar hebat. Lidah-lidah api merah menjilat ke langit malam, mengubah siluet bangunan menjadi kerangka hangus yang mengerikan. Asap pekat mengepul, menciptakan awan kelabu di atas kota, seolah meratapi kehancuran yang terjadi.
Sirene mobil pemadam kebakaran meraung-raung, mencoba menembus kerumunan massa yang masih membludak. Aparat keamanan berusaha membubarkan, namun amarah yang telah tumpah ruah begitu sulit diredam.
Api itu bukan sekadar membakar kayu dan beton, ia juga membakar sisa-sisa kepercayaan, menghanguskan harapan yang pernah disematkan pada wakil rakyat.
Hingga dini hari, api masih berkobar. Dua gedung itu kini tinggal puing-puing, kerangka hangus yang berdiri tegak namun kosong tak berdaya.
Eksplorasi konten lain dari Lintas News Media
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


